Semua orang yang memutuskan untuk hidup berkeluarga pasti
mengangankan adanya kebahagiaan dalam hidup rumah tangganya, meski
angan-angan tentang kebahagiaan juga berbeda-beda. Kebahagiaan sangat
subyektip tetapi universal. Ada orang yang bahagia karena memperoleh
sesuatu yang banyak, tetapi yang lain sudah cukup merasa bahagia
meski hanya memperoleh sedikit. Ada orang yang merasa bahagia karena
memperoleh susuatu tanpa bersusah payah, tetapi yang lain merasa
bahagia justeru telah bersusah payah lebih dahulu. Kebahagiaan ada
yang sifatnya sesaat, ada yang lama dan bahkan ada kebahagiaan abadi.
Makna bahagia
Ada dua ungkapan, senang dan bahagia. Senang adalah terpenuhinya
tuntutan syahwat, misalnya sedang lapar menemukan makanan lezat,
sedang haus menemukan minuman segar, sedang sulit menemukan
kemudahan, sedang kesepian ketemu teman atau kekasih, sedang nganggur
dapat pekerjaan dan sebangsanya. Adapun bahagia berhubungan dengan
misteri yang sangat subyektip, tetapi intinya adalah datangnya
pertolongan ilahiyah hingga memperoleh sesuatu yang dianggap sebagai
kebaikan ilahiyah (al khoir). Rasa bahagia misalnya terasa ketika
anaknya lahir laki-laki setelah sekian lama mendambakan ingin
mempunyai anak lelaki. Keberhasilan memeliliki anak-lelaki tidak
diklaim sebagai prestasi – ini karena aku bisa bikinnya misalnya;
kata sang ayah- tetapi orang yang mempunyai anak lelaki setelah
hampir putus asa mendambakan kehadirannya merasa bahwa kehadiran anak
lelaki itu merupakan anugerah Tuhan yang tak ternilai. Kebahagiaan
juga terasa ketika seorang ibu yang membesarkan anak gadisnya tanpa
kehadiran suami sehingga ia dalam keadaan berat selalu berharap agar
anaknya memiliki masa depan yang baik. Pada saatnya anak gadisnya
dipersunting oleh seorang pemuda saleh yang cerah masa depannya. Masa
depan cerah anak gadisnya itu tidak diklaim sebagai prestasinya
tetapi benar-benar dipandang sebagai anugerah Tuhan.
Jadi kebahagiaan itu datang dalam rangkaian kesulitan yang panjang
tetapi ketika hadir tidak dakui sebagai prestasinya. Orang lainpun
akan berkomentar, ibu itu sungguh sudah bekerja keras melampaui
berbagai kesulitan dalam mengasuh anaknya sendirian, maka pantaslah
jika Allah menganugerahinya kebahagiaan yang sempurna kepadanya.
Thursday, April 5, 2007
Kesulitan dan Kebahagiaan (1)
Posted by nanto at 8:01 AM 0 comments
Kesulitan Dan Kebahagiaan (2)
Dalam bahasa Arab ada empat kata yang berhubungan dengan kebahagiaan,
yaitu sa`adah (bahagia), falah (beruntung) dan najat (selamat) dan
najah (berhasil). Jika saadah (bahagia) mengandung nuansa anugerah
Tuhan setelah terlebih dahulu mengarungi kesulitan, maka falah
mengandung arti menemukan apa yang dicari (idrak al bughyah). Falah
ada dua macam, dunyawi dan ukhrawi. Falah duniawi adalah memperoleh
kebahagiaan yang membuat hidup di dunia terasa nikmat, yakni
menemukan (a) keabadian (terbatas); umur panjang, sehat terus,
kebutuhan tercukupi terus dsb, (b) kekayaan; segala yang dimiliki
jauh melebihi dari yang dibutuhkan, dan (c) kehormatan sosial.
Sedangkan falah ukhrawi terdiri dari empat macam, yaitu (a) keabadian
tanpa batas, (b) kekayaan tanpa ada lagi yang dibutuhkan, (c)
kehormatan tanpa ada unsur kehinaan dan (d) pengetahuan hingga tiada
lagi yang tidak diketahui. Sedangkan najat merupakan kebahagiaan yang
dirasakan karena merasa terbebas dari ancaman yang menakutkan,
misalnya ketika menerima putusan bebas dari pidana, ketika mendapat
grasi besar dari presiden, ketika ternyata seluruh keluarganya
selamat dari gelombang tsunami dan sebagainya. Adapun najah adalah
perasaan bahagia karena yang diidam-idamkan ternyata terkabul,
padahal ia sudah merasa pesimis, misalnya keluarga miskin yang
sepuluh anaknya berhasil menjadi sarjana semua.
Kesenangan berdimensi horizontal, sedangkan kebahagiaan berdimensi
horizontal dan vertikal. Orang masih bisa menguraikan anatomi
kesenangan yang diperolehnya, tetapi ia akan susah mengungkap rincian
kebahagiaan yang dirasakannya. Air mata bahagia merupakan wujud
ketidakmampuan kata-kata. Prof. Fuad Hasan dalam bukunya Pengalaman
Naik Haji mengaku tidak bisa menerangkan kenapa beliau menangis di
depan Ka`bah, karena kebahagiaan yang beliau alami berdimensi
vertikal, bernuansa anugerah, bukan prestasi. Banyak mempelai
menitikkan air mata ketika akad nikah, demikian juga kedua orang
tuanya, dan mereka tidak bisa menerangkan anatomi perasaan bahagianya.
Kebahagiaan berkaitan dengan tingkat kesulitan yang dialami.
Kebahagiaan sesungguhynya dalam kehidupan rumah tangga bukan ketika
akad nikah, bukan pula ketika bulan madu, tetapi ketika pasangan itu
telah membuktikan mampu mengarungi samudera kehidupan hingga ke
pantai tujuan, dan di pantai tujuan ia mendapati anak cucu yang
sukses dan terhormat. Sungguh orang sangat menderita ketika di ujung
umurnya menyaksikan anak-anak dan cucu-cucunya nya sengsara dan hina,
meski perjalanan bahtera rumah tangganya penuh dengan sukses story.
Kebahagiaan biasanya datang setelah orang sukses mengatasi kesulitan
yang panjang, tetapi tidak semua kesulitan mengantar pada kebahagiaan
yang sebenarnya.
Menurut hadis Nabi ada empat pilar kebahagiaan dalam hidup berumah
tangga; (1) isteri/suami yang setia (2) anak-anak yang berbakti (3)
lingkungan sosial yang sehat dan (4) rizkinya dekat. Kesetiaan
membuat hati tenang dan bangga, anak-anak yang berbakti menjadikannya
sebagai buah hati, lingkungan sosial yang sehat menghilangkan rasa
khawatir dan rizki yang dekat merangsang optimisme, idealisme dan
imajinasi.
Posted by nanto at 8:00 AM 0 comments
Thursday, March 29, 2007
1000 ...
berbagai perusahaan.
Salah satu yang terkena PHK adalah Paijo.
Bulan ini ia tidak bisa lagi mengirim uang untuk istrinya di kampung
halaman. Ia hanya bisa mengirim surat. Isinya demikian:
Istriku Tercinta,
Maafkan kanda sayang, bulan ini Kanda tidak bisa mengirim uang untuk
kebutuhan keluarga di rumah.
Kanda hanya bisa mengirimmu 1000 ciuman.
Paling cinta,
Kanda Paijo
Kanda Paijo tersayang,
Terima kasih atas kiriman 1000 ciumanmu.
Untuk bulan ini Dinda akan menyampaikan laporan pengeluaran keluarga :
Tukang minyak bersedia menerima 2 ciuman setiap kali membeli 5 liter minyak
tanah.
Tukang listrik mau dibayar dengan 4 ciuman per tanggal 10 setiap bulannya.
Pemilik kontrakan rumah mau dibayar cicil dengan
3 x ciuman setiap harinya.
Engkoh pemilik toko bahan makanan tidak mau dibayar pakai ciuman. Ia maunya
dibayar dengan yang lain.. Ya terpaksa Dinda berikan saja.
Hal yang sama juga Dinda berikan buat kepala sekolah dan gurunya si Udin
yang sudah 3 bulan nunggak uang sekolah..
Besok Dinda mau ke pegadaian untuk tukerin 200 ciuman dengan uang tunai,
karena yang punya pegadaian sudah bersedia menukarkan 200 ciuman + bayaran
lainnya dengan uang 650ribu, lumayan buat ongkos sebulan.
Keperluan pribadi Dinda bulan ini mencapai 50 ciuman.
Kanda tersayang.. bulan ini Dinda merasa jadi orang yang paling kaya di
kampung, karena sekarang Dinda memberikan piutang ciuman ke banyak pemuda di
kampung kita dan siap ditukar kapan pun Dinda butuhkan.
Kanda, dari kanda masih tersisa 125 ciuman, apakah kanda punya ide? Atau
saya tabung saja ya?
Paling sayang,
dari Dinda seorang.
... Gedubrak!! Paijo pun Pingsan.
Posted by nanto at 7:25 PM 0 comments
Bank yang akan tutup ...
Menjelang berakhirnya program penjaminan Pemerintah atas simpanan dana pihak ketiga di perbankan nasional periode 30 April 2006 dan pasca dibubarkannya BPPN, nasabah saat ini harus pandai2 menilai & memilih bank yg sehat sebagai partner, dalam aktivitas usaha ataupun tempat untuk menyimpan dana.
Dengan dibubarkannya BPPN pada February 2004 maka berarti tidak akan ada lagi lembaga yg akan menyelamatkan bank2 sakit/sekarat. Pernyataan dari Dirjen Lembaga Keuangan yg secara tersirat menyatakan akan ada beberapa bank lagi yang akan tutup, berdasarkan hasil investigasi yang kami peroleh.
Berikut daftar bank bank yang akan tutup:
1. Bank Bukopin
2. Bank BRI
3. Bank Mandiri
4. Bank BTN
5. Bank Danamon
6. Bank BCA
7. Bank BII
8. Bank Permata
9. Bank Niaga
10. Bank Agro
11. Bank ABN
12. Citibank
13. Bank HSBC
14. Bank Panin
15. Bank Standard Chartered
16. Bank BNI
Bank-bank tersebut di atas akan tutup sore hari setiap harinya sekitar pukul 15.00 dan akan dibuka kembali esok pagi setiap harinya sekitar pukul 08.00
Posted by nanto at 5:19 PM 0 comments
Tuesday, March 27, 2007
Panggilan Ayah dan Bunda
Assalamu'alaikum wr. Wb
Ustad Ahmad yang saya hormati, ada sebuah pertanyaan yang mengganjal hati saya beberapa masa terakhir ini yaitu panggilan ayah dan bunda pada suami isteri. Adakah hukum yang melarang seorang suami memanggil isterinya dengan panggilan bunda dan si isteri memanggil suaminya ayah. Mohon pencerahan dari ustad.
Terimakasih,
Assalamu'alaikum wr. Wb
Pane
Jawaban
Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Panggilan seorang suami kepada isterinya dengan sebutan 'bunda' memang sangat banyak kita lihat. Bukan hanya kata 'bunda' saja, tetapi semua variannya, seperti 'mama', 'ibu', 'kakak', bahkan 'ummi'.
Demikian juga dengan panggilan seorang isteri kepada suaminya, seringkali dengan sebutan 'ayah', 'papa', 'bapak', 'adik' danbahkan 'abi'.
Sebenarnya tidak ada yang terlarang dengan panggilan-panggilan seperti ini, asalkan sudah menjadi kelaziman. Tentu sama sekali tidak ada niat dari masing-masing pasangan untuk memposisikan suami atau isteri dengan cara yang berbeda. Maksudnya, ketika seorang isteri memanggil suaminya dengan sebutan 'ayah', tentu niatnya bukan menganggap suaminya sebagai ayahnya. Demikian juga sebaliknya.
Memang secara bahasa, panggilan-panggilan ini agak rancu. Tapi yang tidak rancu terkadang malah aneh terdengar di telinga. Mungkin kita akan merasa janggal kalau mendengar seorang isteri memanggil suami dengan sapaan "Suamiku, suamiku!." Lalu suaminya menjawab, "Ya, ada apa isteriku?" Persis potongan film Cina yang disulih (dubbing) dengan bahasa Indonesia.
Jadi ini sebenarnya masalah rasa bahasa. Kita adalah bangsa yang tergolong santun dalam berbahasa, saking santunnya sampai-sampai 'keluar' dari alur aslinya. Meski tidak harus selalu bertentangan dengan syariah.
Misalnya panggilan 'saudara' atau 'saudari', sudah menjadi sebuah keumuman bahwa kita menyapa orang lain, baik yang kita kenal atau pun yang tidak dengan panggilan itu. Padahal kalau mau ditarik ke arah hukum syariah, seorang laki-laki diharamkan menikah dengan saudari perempuannya. Atau lebih tegasnya seorang al-akh tidak boleh menikahi ukhti-nya. Karena hubungan antara akh dengan ukht adalah hubungan kemahraman yang dilarang terjadinya pernikahan.
Panggilan Abi dan Ummi
Sayangnya, ada panggilan yang agak 'lebih parah' lagi. Yaitu panggilan isteri kepada suaminya dengan sebutan 'abi'. Dan sebaliknya, panggilan suami kepada isterinya dengan sebutan 'ummi'.
Kenapa kami bilang lebih parah?
Karena kata 'abi' bukan sekedar bermakna ayah, yang masih bersifat umum, tetapi sudah makrifah, di dalamnya sudah ada penekanan bahwa yang dipanggil abi adalah ayah saya. Maka ketika isteri menyebut 'abi' artinya adalah ayah saya. Ketikasuami menyebut 'ummi' artinya adalah ibu saya.
Di sini yang jadi sorotan adalah semangat menggunakan bahasa arab yang agak kurang tepat mengenai sasaran. Masalahnya, Rasulullah SAW dan para shahabat yang orang arab, sama sekali tidak pernah menyapa isteri mereka dengan sebutan 'ummi'. Para isteri shahabat juga tidak pernah memanggil suami mereka dengan sapaan 'abi'. Karena suami mereka memang bukan ayah mereka, sebagaimana isteri mereka bukan ibu mereka.
Mereka tetap memanggil isteri mereka dengan kata umm, tetapi bukan 'ummi'. Di sini letak titik masalahnya. Mereka panggil isteri mereka dengan sebutan yang menyebutkan kedudukan ibu terhadap anaknya. Kalau anak mereka bernama Zaid misalnya, maka panggilannya adalah: 'Umma Zaid'.
Kok umma bukan ummu?
Ya, karena kata umm dalam kalimat itu berposisi sebagai munada atau pihak yang dipanggil, dan dia sendiri adalah mudhaf, maka kedudukannya menjadi nashab (manshub). Dan tandanya adalah fathah. Aslinya, ada huruf munada seperti 'ya'yang artinya wahai. Maka aslinya: Ya umma Zaid. Artinya, wahai ibunya Zaid.
Demikian juga, si isteri menyapa suaminya bukan dengan sebutan 'abi', melainkan 'aba zaid'.
Tetapi sebutan itu bukan panggilan langsung kepada orangnya, maka posisi rafa' dengan dhammah sebagai tandanya. Abu Zaid dan Ummu Zaid.
Maka tidak ada salahnya kita sedikit mengoreksi masalah ini, sambil hitung-hitung belajar bahasa arab dengan baik. Kalau anda punya anak bernama Muhammad, cobalah sapa isteri anda dengan panggilan: umma Muhammad. Akan terasa lebih meresap dari sisi bahasa dan tentunya lebih syar'i.Ketimbang disapa dengan sebutan yang lain.
Tetapi apa yang kami sampaikan bukanlah hal yang prinsipil, apalagi menabrak larangan syariah. Sekedar bahan renungan, setidaknya untuk mereka yang sedang merindukan untuk punya bahtera kehidupan yang lebih baik di masa mendatang. Apa salahnya sejak awal sudah lebih kritis dalam penggunaan istilah?
Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Ahmad Sarwat, Lc
Eramuslim, Selasa, 27 Mar 07 07:48 WIB
Posted by nanto at 11:53 AM 0 comments
Kecemburuan professional
Seperti biasa kalau naik sepeda bergabung dengan group hari Minggu, saya bertemu karyawan, supervisor dan sebagian penganggur. Kalau naik sepeda di hari Sabtu, saya ketemu dengan manager, direktur dan sedikit sekali penganggur. Namun ketika memilih bersepeda di hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, dan Jumat, saya menjumpai para investor dengan berbagai jenis, tidak harus Milyaran sich ……. tapi mereka punya pengaturan kehidupannya sendiri.
Suatu ketika saya bersepeda dan bertemu dengan seseorang yang kelihatannya rajin sekali bersepeda, sehingga banyak yang berprasangka bahwa orang ini penganggur. Tapi, yang membuat para tetangga menjadi iri adalah orang ini pagi sudah sepedahan dan sore sepedahan juga, namun secara keuangan mapan dan bahkan menjadi jalan rizki bagi banyak orang. Sebab, dia selalu menciptakan beberapa pekerjaan sederhana yang bisa dikerjakan oleh mereka-mereka yang sangat kekurangan keuangan tapi punya semangat kerja dan bukan semangat mengeluh.
Salah satu bentuk pekerjaannya adalah menjual pulsa isi ulang, yang sebagaian besar berbentuk elektronik. Sebenarnya, nilai keuntungan dari menjual pulsa tidak begitu banyak. Paling setiap kartu antara lima ratus rupiah sampai dua ribu rupiah. Namun, beliau mempunyai lebih dari tiga puluh cabang kecil-kecil yang dioperasikan oleh semua kalangan, ada ibu rumah tangga, office boy dan ada juga mahasiswa yang ingin punya harga diri untuk tidak terlalu banyak membebani orang tuanya..
Walaupun berjumlah tiga puluh cabang, sebenarnya keuntungannya juga tidak terlalu banyak, bahkan setiap hari dirinya harus keliling ke beberapa cabang kecil itu untuk mengambil setoran.
Keuntungan baru terlihat banyak, sebab setiap pengambilan setoran dari tiap-tiap cabang itu, tidak banyak mengeluarkan uang untuk beli bensin. Beliau selalu mengambilnya dengan mengayuh sepeda.
Disamping mengayuh sepeda untuk mengambil setoran pulsa isi ulang, beliau juga punya keahlian memperbaiki sepeda, dan uniknya adalah memperbaiki sepeda dengan cara datang dari rumah ke rumah dan pada kesempatan itu pula, juga menawarkan pulsa isi ulang kepada keluarga tempat memperbaiki sepeda dan orang-orang yang ada disekitarnya.
Sahabat CyberMQ
Ada empat hal yang sangat mengagumkan (1) Bisnisnya tidak terlalu besar, hanya jumlahnya banyak, itupun keuntungannya juga tidak terlalu besar lho … (2) Keuntungan menjadi besar “Walaupun relatif” disebabkan biaya operasional bisnisnya menjadi sangat kecil, sebab semuanya dilakukan dengan menggunakan sepeda; (3) Sambil mengambil setoran pulsa isi ulang, beliau mendapat penghasilan tambahan yaitu memperbaiki sepeda dari rumah ke rumah.; (4) Badanya kekar, sehat, banyak silaturahmi sambil bisnis kecil-kecil dan menyenangkan.
Mari kita tingkatkan kecemburuan professional kita.
Berani mencoba bisnis kecil-kecil dan banyak, dengan biaya oprasional sangat kecil ditambah sehat juga !!! Bagaimana pendapat sahabat ???
Posted by nanto at 9:44 AM 0 comments
Monday, March 26, 2007
Terus Senang, Senang Terus
Ketika kita menggunakan moto itu, maka konsep pemikiran kita adalah kalau ingin sukses dalam hidup harus berani bersakit-sakit dahulu, agar nantinya mampu menikmati aneka kesenangan. Konsep inilah, yang menyebabkan seseorang senang hidup dengan bersakit-sakit dahulu, dengan harapan agar mendapatkan kesenangan dikemudian hari.
Tidak salah memang, kalau kita mempunyai moto hidup seperti itu, namun marilah kita mulai hari ini berani melanggar moto:”Berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ketepian”. Mengapa harus dilanggar? Jawabannya sangat sederhana dan sangat mendasar, yaitu:”Buat apa hidup bersakit-sakit dahulu, agar nanti mendapatkan kesenangan”. Bagaimana kalau belum mendapat kesenangan, sudah meninggal, kapan senangnya. Padahal dunia ini, diciptakan oleh Allah swt untuk kita nikmati dengan senang dan cara yang benar.
Moto hidup:”Bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian”, kita langgar menjadi: ”Hidup terus senang, senang terus”. Mengapa hidup harus terus senang, senang terus? Jawabannya juga sangat sederhana dan mendasar, yaitu secara spiritual hidup harus senang.
Caranya sangat sederhana, yaitu kalau kita mendapatkan kesulitan maka bersabar dan orang-orang yang bersabar terhadap kesulitan hidup, pasti dirinya menjadi senang, sambil tetap berusaha agar kesabarannya bisa merubah hidup menjadi lebih baik.
Begitu juga sebaliknya, kalau kita dihadapkan dengan aneka kemudahan maka tinggal bersyukur dan orang-orang yang selalu bersyukur atas kemudahan yang dialaminya, pasti dirinya menjadi senang, sambil mengoptimalkan rasa syukurnya, agar semakin bermanfaat bagi banyak orang.
Contoh sangat sederhana, saya punya sahabat sarjana hukum, kemudian beliau bekerja dan mendapat pekerjaan sebagai office boy, beliau dilecehkan, tidak ada orang yang berterima kasih karena lantai kamar mandi bersih, tidak ada yang minta maaf kalau lantai kantor yang baru dibersihkan dan masih basah, kemudian diinjak oleh beberapa sepatu kotor, sehingga harus di bersihkan lagi.
Alhamdulillah sahabat saya ini tidak minder, tidak sakit hati, tidak merasa diremehkan. Beliau tetap bersabar dan senang dengan pekerjaan itu, walaupun menurut orang lain, ijasah sarjana hukum tidak cocok sebagai office boy. Sedangkan bagi dirinya, pekerjaan apapun adalah menyenangkan asal hasilnya halal. Konsep dirinya adalah, tugas office boy salah satunya adalah membersihkan, maka tidak ada alasan untuk sakit hati.
Beberapa tahun kemudian, angin perubahan berpihak kepadanya, beliau diangkat sebagai salah satu manager di perusahaan itu dengan aneka fasilitas yang sangat luar biasa, ada mobil, rumah dinas, tunjangan anak dan istri, bahkan setiap orang yang bertemu selalu menyapa dengan rasa hormat.
Alhamdulillah, sahabat saya ini tidak menjadi sombong, angkuh, apalagi meremehkan orang lain. Beliau selalu bersyukur dan senang dengan pekerjaan itu tanpa harus lupa diri. Beliau selalu mensyukuri hasil jerih payah yang selama ini dirintis dan bahkan sekarang menjadi penasehat psikologi spiritual bagi sahabat, karyawan, dan bahkan perusahaan-perusahaan lainnya.
Sahabat CyberMQ
Jadi tidak ada alasan bagi kita ini, untuk hidup tidak senang, sebab dengan sabar dan syukur semuanya menjadi baik bagi kita semua. Kalau semua kejadian baik bagi kita, berarti semuanya menjadi sangat menyenangkan.
Berani hadapi tantangan terus senang dan senang terus !!! Bagaimana pendapat sahabat ???
Posted by nanto at 9:59 AM 0 comments