Thursday, August 30, 2007

Apa yang Dimaksud dengan Imsak?

Assalammu'alaikum Ustadz,

Tahun ini saya puasa di Amerika untuk pertama kalinya. Saya agak bingung karena setelah meminta jadwal puasa di Masjid, tidak ada jadwal Imsak.

Ketika saya tanya untuk jadwal Imsak, staff yang ada di Masjid malah nanya balik ke saya utk apa jadwal Imsak. Saya lalu menjelaskan supaya ada jarak antara berhenti sahur dan Shubuh.

Tapi terus, saya malah diberitahu kalau hanya untuk jarak antara berhenti sahur dan shubuh, tidak perlu jadwal Imsak, tapi bisa juga dikira-dikira 10 menit sebelum Shubuh. Logis sih, tapi terus kenapa selama ini ada jadwal Imsak di Indonesia? Apa jadwal Imsak itu sangat penting?

Terima kasih

Wassalammu'alaikum

Puti Rijadi
putirijadi@gmail.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Istilah 'imsak' yang sangat populer di negeri kita sebenarnya merupakan istilah yang agak salah kaprah. Sebab makna imsak adalah puasa, bukan 'bersiap-siap untuk puasa 10 menit lagi'.

Bersiap-siap untuk berpuasa itu tidak penting-penting amat, setidaknyabuat sebagian orang. Dan pentinguntuk diketahui bahwa waktu 'imsak'bukan tanda masuknya waktu mulai untuk puasa. Seandainya bila sedang makan sahur lalu tiba-tiba masuk waktu shalat shubuh, tinggal dimuntahkan saja.

Justru hal ini yang perlu diluruskan, bahwa saat dimulai puasa itu bukan sejak masuknya waktu 'imsak', melainkan sejak masuknya waktu shubuh. Ini penting agar jangan sampai nanti ada orang yang salah dalam memahami. Dan merupakan tugas kita untuk menjelaskan hal-hal kecil ini kepada masyarakat.

Kalau anda bertanya kenapa ada jadwal imsak di Indonesia, ini memang pertanyaan menarik. Indonesia punya karakter unik yang terkadang tidak dimiliki oleh negara di mana Islam itu berasal. Salah satunya imsak ini. Bahkan sampai ada istilah jadwal imsakiyah. Padahal maksdunya adalah jadwal waktu-waktu shalat. Karena kebetulan dicantumkan juga waktu 'imsak' yang kira-kira 10 menit sebelum shubuh itu, akhirnya namanya jadi seperti itu.

Padahal waktu 10 menit itu pun juga hanya kira-kira, sebagai terjemahan bebas dari kata sejenak. Memang asyik kalau ditelusuri, kenapa 10 menit, kenapa tidak 5 menit atau 15 menit? Pasti tidak ada yang bisa menjawab.

Dan itu khas Indonesia yang tidak dimiliki oleh bangsa lain. Mudah menjiplak sesuatu yang dia sendiri tidak pernah tahu asal muasalnya. Pokoknya itu yang masyhur di masyarakat, itu pula yang kemudian dijalankan. Urusan dasar pensyariatan dan asal usulnya, urusan belakang.

Halal bi Halal

Salah satu istilah yang 'super aneh' di telinga dunia Islam tapi sangat akrab di telinga kita adalah istilah halal bi halal. Semua orang arab yang datang ke Indonesia pasti dahinya berkerut sepuluh lipatan kalau mendengar istilah ini. Istilah itu tidak pernah tercantum kamus arab mana pun yang pernah ditulis di muka bumi ini.

Entah siapa yang pertama kali memperkenalkan istilah ini. Tapi tak ada satu pun hadits atau bahkan kitab yang menjelaskan hal ini. Ini khas Indonesia, sangat Indonesia sekali...

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Qiyamullail Setelah Tarawih

Assalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ustadz ane mau tanya. Kalau kita sudah sholat Tarawih dan sholat Witir ba'da sholat 'Isya, masih boleh Qiyamullail lagi nggak pada diniharinya?Tolong tuliskan dalilnya secara lengkap.

Syukron, jazakalloh.

Wassalamu 'alaikum Wr. Wb.

Ibnu Abdul Hamid
al.achtaar@gmail.com

Jawaban

Assalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ada sebagian kalangan yang mengambil kesimpulan bahwa shalat witir mengharamkan adanya shalat sunnah malam lain sesudahnya. Hal ini terjadi lantaran ada riwayat yang memerintahkan kita untuk menjadikan shalat witir sebagai penutup shalat malam.

Riwayat itu memang benar. Kita dianjurkan untuk shalat malam dan kita mengakhirinya dengan shalat witir. Namun apakah anjuran itu juga berfungsi untuk mengharamkan semua shalat sunnah setelahnya?

Para ulama mengatakan tidak. Shalat witir memang dianjurkan dilakukan di bagian akhir dari shalat malam, akan tetapi bukan berarti bila setelah melakukan shalat witir maka semua shalat sunnah setelahnya menjadi haram dikerjakan.

Karena diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah shalat sunnah dua rakaat setelah belaiu melakukan shalat witir. Hadits sebagai berikut:

عن أم سلمة رضي الله عنها أنه صلى الله عليه وسلم كان يركع ركعتين بعد الوتر وهو جالس،رواه أحمد وأبو داود والترمذي وغيرهم

Dari Usamah ra bahwa Nabi SAW shalat dua rakaat setelah shalat witir dan beliau duduk (HR Ahmad, Abu Daud dan At-Tirmizy)

Dengan demikian, tidak ada larangan untuk melakukan shalat tahajjud di malam hari meski sudah melakukan shalat witir di sore hari.

Dan tidak ada keharusan shalat witir untuk dilakukan di tengah malam atau di akhir malam. Sebab ada hadits yang menyebutkan tentang hal itu.

"مَن ظنَّ منكم ألا يَستيقظ آخره – أي الليل – فلْيُوتر أوَّلّه، ومَن ظن منكم أنه يستيقظ آخره فليوتر آخره، فإن صلاة آخر الليل محضورة وهي أفضلرواه مسلم وأحمد والترمذي وابن ماجة

Siapa yang memperkirakan tidak bisa bangun di akhir malam maka hendaklah shalat witir di awal malam. Namun siapa yang bisa memperkirakan bangun di akhir malam, maka lebih utama untuk dilakukan di akhir malam. Karena sesungguhnya shalat di akhir malam itu disaksikan malaikat dan lebih utama. (HR Muslim, Ahmad, Ibnu Majah dan At-Tirmizy)

Bila sudah melakukan shalat witir di awal malam, misalnya bersama jamaah shalat tarawih, lalu di akhir malam masih ada kesempatan untuk bertahajjud, silahkan saja. Dan setelah itu tidak perlu lagi dilakukan shalat witir. Karena tidak ada 2 kali shalat witir dalam satu malam. Sebagaimana hadits berikut ini:

عن علي كرم الله وجهه قال:سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول, "لا وتران في ليلة"رواه أبو داود والنسائي والترمذي وحسنه

Dari Ali bin Abi Thalib berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Tidak ada shalat witir 2 kali dalam satu malam." (HR Abu Daud, An-Nasai dan At-Tirmizy)

Wallahu a'lam bishshawab, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc

Thursday, May 10, 2007

Kemuliaan Di Balik Cacian

Diantara kaum kita ada yang hobi mencaci-maki. Rasulullah, jarang membalas cacian orang. Di balik perbuatannya itu, kita berpeluang meraih kemuliaan

Seorang laki-laki datang menemui Abu Bakar. Tanpa ba-bi-bu lelaki tersebut mencacimaki salah seorang sahabat nabi yang sangat beliau cintai ini. Rasulullah Salallaahu alaihi wassalam yang saat itu tengah duduk di sampingnya, tampak terheran-heran sambil tersenyum melihat Abu Bakar diam saja.

Namun ketika kata makian semakin banyak Abu Bakar pun meladeninya. Rasulullah bangkit dengan wajah tidak suka dengan sikap Abu Bakar itu. Beliau berdiri dan

Abu Bakar mengikutinya.

Ya Rasulullah, tadi dia mencaci makiku namun engkau tetap duduk. Tapi ketika kuladeni sebagian kata-katanya, engkau marah dan berdiri. Mengapa demikian ya Rasulullah?” tanya Abu Bakar.

“Sesungguhnya bersamamu ada malaikat, kemudian dia berpaling dari padamu. Ketika engkau meladeni perkataannya, datanglah syaitan dan aku tak sudi duduk bersama syaitan itu,” jawab Rasul. Kemudian beliau meneruskan nasihatnya, Tidak teraniaya seseorang karena penganiayaan yang ia sabar memikulnya kecuali Allah akan menambahkan kepadanya kemuliaan dan kebesaran.” (HR. Imam Ahmad dari Abu Kabsyah Al Anmari)

Ridha

Tidak ada suatu pun kejadian, bahkan selembar daun yang terjatuh pun, melainkan sudah di dalam skenario Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Begitu pula apa pun yang menimpa kita dalam hidup keseharian. Mulai dari peristiwa besar hingga yang kecil semua telah direncanakan oleh Allah.

Karena itu sikap orang yang beriman dalam menghadapi segala kejadian diterimanya dengan hati lapang dan ridha; sebagai hidangan dari Allah. Musibah yang secara lahiriah merugikan, bagi orang yang bersabar justru ladang mendapatkan pahala di sisi-Nya.

Kami (Allah) akan memberikan kepada orang- orang yang berhati sabar itu pahala menurut amalan yang telah mereka kerjakan dengan sebaik- baiknya.” (Surat. An Nahl: 96)

Salah satu kejadian yang mungkin sering terjadi dalam pergaulan adalah perkataan yang tidak menyenangkan, caci maki misalnya. Agar tidak sia-sia, menghadapi hal seperti ini perlu sikap yang tepat. Sikap Abu Bakar yang mampu bersabar menahan diri dan diam saja, membuat Rasul tersenyum. Namun pada saat Abu Bakar mulai meladeni caci makian, Rasul pun menunjukkan sikap tidak menyukainya. Padahal yang dilakukan Abu Bakar hanya meladeni sebagian kata-katanya saja. Lalu bagaimana dengan sikap kebanyakan kita selama ini?

Boro-boro menahan diri. Bahkan seringkali lebih emosional dan balasan spontan yang dilancarkan justru lebih gencar dari umpan caci makiannya. Dengan muka merah dan suara marah meledak-ledak meluncurlah kata-kata yang lebih tajam lagi. Bukan hanya menjawab sebagian kata-kata, tetapi satu kata malah dibalas dengan sepuluh kata. Naudhubillah.

Sikap emosional dan kehilangan kendali seperti itu, merupakan tanda kurang ridha dengan kejadian. Kita lupa bahwa apa yang terjadi sesungguhnya merupakan kiriman Allah untuk menguji sikap kita. Saat emosional seperti itu pusat orientasi bukan lagi ingin meraih ridha Allah, tetapi sekadar melampiaskan hawa nafsu. Dar der dor yang penting terpuaskan. Kita tidak bisa membayangkan, bagaimana sikap Rasul andai bersama kita. Yang beliau lakukan barangkali tidak hanya bangkit dan berdiri, tapi berlari menjauh. Sebab setan yang merubung kita terlalu banyak.

Dengan menyadari bahwa tiada kejadian yang kebetulan kecuali atas kehendak Allah, hati akan ridha. Sikap inilah yang dibutuhkan agar kita tetap terkendali.

Bayangkanlah bahwa kita sedang menyaksikan episode sinetron tiga dimensi luar biasa yang diskenario oleh Allah. Nikmatilah caci makiannya seperti sedang menyaksikan bintang yang berakting di layar kaca. Bila mulai terpancing, ucapkan istighfar dan orientasikan hati pada ridha Allah, tentu akan membuat pikiran lebih tenang. Dengan suasana spiritual seperti itu malaikat yang bersama kita tetap mendampingi.

Sikap marah-marah dan emosional, justru menjerembabkan kita pada kenistaan. Maunya membela kehormatan, tetapi dengan ucapan balasan yang lebih tajam justru menunjukkan kualitas ruhani kita. Malaikat malah menyingkir dan yang datang merubung malah setan. Tidak hanya kehilangan kehormatan di depan manusia, tetapi juga di depan Allah dan Rasulnya.

Memilih

Seringkali respon tindakan seseorang ditentukan oleh keadaan. Kalau yang diterima caci maki maka reaksinya juga caci maki. “Yah, kami tidak ada pilihan lagi kecuali membalasnya. Dia telah menghina kehormatan kami, maka kami pun menghinanya untuk membela diri.” Demikian alasan yang dikemukakan.

Manusia sesungguhnya tidak semata ditentukan oleh lingkungan, tetapi juga oleh dirinya sendiri. Bahkan sebagian orang malah mampu mempengaruhi lingkungan.

Mereka mencairkan lingkungan yang beku, memperbaiki keadaan yang buruk. Menghadapi keadaan yang ada manusia diberi kemampuan memilih. Saat menghadapi caci maki, seorang dapat merenungkan dalam hati, apa tindakan terbaik yang ingin dilakukan; diam atau membalas.

“Mintalah fatwa kepada hatimu sendiri. Kebaikan adalah apa-apa yang menentreramkan jiwa dan hati. Dosa adalah apa-apa yang mengusik jiwa dan meragukan hati.” (HR.Imam Ahmad)

Kita akan dapat memilih tindakan terbaik jika dilandasi sikap ridha. Dengan menyadari bahwa semua dari Allah akan membuat hati tetap bening dan pikiran juga jernih. Akhirnya yang muncul tindakan terpilih.

Suara hati yang mendorong nilai-nilai kebaikan tetap terdengar. Pikiran pun dapat memilih kata yang paling tepat dan lisan mengucapkannya dengan indah, tidak asal nerocos. Tentu saja akan berbeda halnya jika caci maki dihadapi dengan sikap emosional. Hati dikuasai hawa nafsu dan amarah sedangkan pikiran pun jadi kotor. Akhirnya yang mengalir di lisan adalah kata-kata kotor bahkan lebih tajam lagi.

Sebenarnya, seorang yang mencaci maki dengan kata-kata kotor tidak akan membuat orang lain rendah kecuali merendahkan dirinya sendiri. Kata-kata kotor yang keluar dari mulut, lebih menunjukkan siapa yang mengatakan dari pada siapa yang dikata-katai. Kotor kata-katanya, berarti kotor pula pikirannya. Jadi sebenarnya tanpa membalasnya, sudah cukup orang lain menilai siapa yang sesungguhnya lebih buruk itu. Tapi bila kita membalas caci makian itu dengan caci maki yang lebih tajam dan berlebihan, malah menunjukkan keburukan sisi jiwa kita. Sikap berlebihan dalam membalas itu justru membuat kita sama-sama terjerembab bersama orang yang mencaci itu.

Hikmah

Allah menghadapkan kita pada keadaan yang tidak kita senangi itu tentu ada hikmahnya. Dengan sikap ridha kita dapat menjadikan caci maki sebagai alat evaluasi diri. Tidak mudah lho melihat kekurangan diri. Dari yang dikatakan itu mungkin ada yang tidak sesuai, tapi beberapa bagian sebenarnya agak sesuai juga. Bahkan kalau mau jujur kita masih perlu bersyukur; bahwa Allah masih menutupi aib-aib kita. Apa yang dikatakan itu sebenarnya belum seberapa dari semua kekurangan kita. Dengan demikian kita terhindar dari sikap sombong dan sok sempurna. Kita tersadar merasa masih banyak kekurangan dan lebih terpacu lagi memperbaiki diri.

Dicacimaki juga memberi pengalaman tak telupakan. Ternyata kata-kata tajam itu bisa membuat hati ini terluka. Barangkali tanpa kita sadari kita pernah mencaci maki teman atau orang lain, dan kemudian melupakan begitu saja setelah melampiaskan. Padahal luka hati akibat caci maki itu sulit disembuhkan.

Nah, jika kita merasa tidak enak dicaci maki, sadarlah bahwa orang lain pun seperti itu juga. Karenanya terdorong dari pengalaman berharga itu segeralah bertobat dan mintalah maaf kepada orang yang pernah kau sakiti. Engkau tidak akan bisa menanggung beban di akhirat kelak menghadapi pengadilan Allah. Amal-amalmu habis beralih tangan pada orang lain yang kau dzalimi itu. Sedangkan dosa-dosa orang yang kau dzalimi ditimbunkan pada dirimu. Itulah orang yang bangkrut menurut Rasul.

Setelah mendapatkan hikmah yang sangat besar itu, kita pun dapat lebih berlapang dada. Caci makian yang menimpa kita itu ternyata seperti jamu. Meski terasa pahit, ternyata dapat menyehatkan jiwa. Oleh sebab itu kita perlu berlatih bagaimana sikap terbaik menghadapi caci makian agar kejadian yang diskenario Allah itu tidak sia-sia. Justru menjadi ladang kita mendapat kemuliaan dan kebesaran di sisi-Nya.

Dicontohkan dalam sejarah; kita ketahui Rasul pun tak luput mendapatkan makian bahkan lebih keras lagi. Penduduk Thaif yang diajaknya pada kebenaran tidak menyambutnya dengan baik, justru menyambutnya dengan olokan, lemparan batu dan potongan besi. Wajah, badan dan kaki beliau pun berdarah-darah. Namun yang dilakukan beliau tidak membalasnya tapi justru mendoakan; Allahummahdi qawmi. Innahum laa ya’lamuun.

”Ya Allah berilah petunjuk kaumku itu. Karena sesesungguhnya mereka tiada mengetahui.”

Caci makian tidak membuat beliau terhina, malah sebaliknya membuat namanya kian mulia dan besar. Coba bayangkan jika Rasul juga membalasnya dengan olokan emosional yang lebih tajam, tentu akan lain ceritanya.

Memang terasa sulit membayangkan. Namun bila kita menyadari hikmah yang demikian banyak di balik cacian.

Rasanya orang yang mencaci maki kita itu memang tak layak dibalas dengan cacian. Karena di balik perbuatannya itu, kita berpeluang meraih kemuliaan dan kebesaran di sisi Allah yaitu dengan bersabar.

Jadi sudah selayaknya orang yang membukakan peluang kesadaran, dan kemuliaan itu kita maafkan. Bahkan kita bisa mendoakan semoga dia mendapatkan ampunan dan hidayah dari Allah menjadi lebih baik. Bukankah doa orang yang terdzalimi makbul? [Hanif Hannan. Tulisan ini diambil dari rubrik ’Hikmah’ majalah Hidayatullah/www.hidayatullah.com] Kamis, 10 Mei 2007

Wednesday, May 2, 2007

Gaji Pas-Pasan Butuh Pemasukan Tambahan


Assalamu'alaikum wr wb

Pak Zainal, perkenalkan saya Wendra di Pekanbaru.

Saya seorang karyawan sebuah perusahaan swasta yang merasa bahwa kalau hanya mengandalkan pendapatan dari gaji saja tidak akan cukup untuk membiayai hidup yang semakin sulit.

Saya ingin mencoba suatu usaha, tetapi yang ada baru semangat untuk mencoba, masalah modal rasanya sangat sulit didapat, adakah tempat meminjam modal yang tidak mensyaratkan agunan dan tidak berbelit-belit?

Atas perhatiannya saya ucapkan terimakasih.

Wassalam,
Wendra

Ayahsyifa

Jawaban

Wa ’alaikum salaam Wr. Wb.

Bung Wendra. Anda sudah bekerja, dan sudah pasti dapat gaji di akhir bulan. Walaupun saya tidak tahu berapa besarnya, pasti ada potensi untuk menabung karena anda sudah punya penghasilan.

Saya yakin, pasti akan ada pertanyaan berikutnya. Misalnya, bagaimana bisa menabung, untuk kehidupan sekarang saja sudah sulit dan tidak mencukupi? Itu pertanyaan yang biasa diajukan oleh orang-orang yang membangun benteng. Ketika ia punya keinginan, selanjutnya ia mengakomodasi berbagai rintangan sehingga jalan ke arah keinginan tersebut justru semakin tertutup.

Menabung adalah cara membangun jalan. Anda punya keinginan untuk memulai usaha. Untuk itu anda harus memiliki modal (setidaknya ini adalah pendapat anda). Satu-satunya potensi anda untuk mendapatkan sejumlah modal, adalah menabung.

Anda harus bersedia menurunkan derajat atau standar kehidupan anda, untuk keinginan yang lebih besar. Misalnya kalau anda sekeluarga setiap hari makan dengan daging, kurangi konsumsi itu satu atau dua kali saja dalam satu minggu. Hal tersebut tidak akan membuat keluarga anda kehilangan nyawa.

Berkorbanlah untuk masa depan anda terlebih dahulu. Jangan minta orang lain berkorban untuk masa depan anda. Kata Slank, Nggak Mungkin.........

Kalau anda berharap dapat modal dari pinjaman tanpa agunan dan tidak berbelit-belit, bisa jadi sampai akhir hayat anda tidak akan mendapatkannya. Bank, atau lembaga keuangan lainnya adalah lembaga yang mengejar keuntungan. Pertanyaan standar mereka kepada para calon peminjam adalah, apa usaha anda?

Tanpa usaha yang sudah menghasilkan keuntungan, hampir mustahil anda akan mendapatkannya. Lain halnya jika anda sudah memulai usaha, dan usaha itu menghasilkan keuntungan yang lumayan besar. Tanpa anda minta, maka lembaga-lembaga keuangan itu akan mengejar anda.

Kepada anda saya sarankan untuk memulai menggunakan potensi diri anda. Jangan gantungan diri anda pada orang atau pihak lain. Menggantungkan diri anda pada pihak lain pada saat ini, sama dengan mengalungkan satu ujung tali kekang ke leher anda, dan menyerahkan ujung lainnya pada orang atau pihak lain.

Orang atau pihak lain itu adalah mereka yang memberikan payung ketika musim panas (supaya anda tidak kepanasan), tetapi mengambil payung itu ketika musim hujan (sampai anda basah kuyup).

Demikian jawaban yang bisa saya berikan. Mudah-mudahan ada manfaatnya.
Selamat berwirausaha. Semoga Allah mengabulkan keinginan anda.

Wa ’alaikum salaam Wr. Wb.
Zainal Abidin, Rabu, 2 Mei 07 08:43 WIB

Monday, April 30, 2007

Mengapa Awal Membangun Rumah Tangga Begitu Berat?


Assalamu'alaikum. Wr. Wb.

Apa kabar Ibu Anita? Saya bersyukur sekali akhirnya bisa konsultasi ke rubrik ini. Ini pertama kalinya saya bergabung dengan eramuslim. Saya wanita berusia 23 tahun. Saya sudah menikah bulan September 2006, dan saat ini saya masih kuliah di UGM. Saat ini saya dan suami sedang dilanda permasalahan ekonomi yang cukup berat.

Suami memang dari keluarga yang kurang mampu. Waktu kami menikah, suami meminjam uang sebesar 9, 5 juta untuk membantu biaya resepsi pernikahan kami. Sebenarnya kami berdua ingin agar pernikahan kami hanya akad nikah saja, akan tetapi dari pihak keluarga saya tetap bersikeras agar pernikahannya diresepsikan. Kami menikah di Jakarta, tentu saja harus mengeluarkan biaya yang cukup banyak. Akhirnya saat ini kami menanggung hutang-hutang yang cukup banyak.

Suami saya baru mendapat pekerjaan sebulan yang lalu dengan gaji yang pas-pasan. Bahkan untuk makan sehari-hari saja, dibantu oleh mertua. Tidak jarang saya minta cerai kepada suami karena beratnya hidup yang saya rasakan bersamanya.

Bagaimana sebaiknya sikap saya agar tetap bisa bertahan menghadapi cobaan ini? Apakah ini pertanda bahwa pernikahan kami tidak barokah? Mengapa awal kami membangun rumah tangga begitu berat?

Wassalamu'alaikum

Ade Khairunnisa
khairunnisa_ade at eramuslim.com

Jawaban

Assalamu'alaikum wr. wb.

Saudari Ade yang dirahmati Allah..

Pernikahan anda yang belum genap setahun, ternyata harus dihadapkan dengan ujian yang cukup berat ya? Tekanan ekonomi yang anda alami dikarenakan anda harus melunasi hutang-hutang yang digunakan untuk resepsi pernikahan, padahal suami baru saja bekerja dan anda pun masih berstatus mahasiswi yang tidak memiliki penghasilan. Alhasil, gaji suami yang pas-pasan tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari sekaligus membayar hutang.

Untungnya mertua masih dapat membantu anda berdua meski hanya untuk makan sehari-hari. Semua itu pastilah membuat anda cukup tertekan dan merasa berat menjalani awal pernikahan yang semestinya dilalui dengan indah.

Masalah ekonomi yang anda hadapi sekarang sebaiknya disikapi dengan banyak bersabar dan tentu saja lebih berhemat lagi. Alangkah baiknya jika anda mendukung dan memberi semangat kepada suami tercinta untuk dapat melalui ujian ini bersama-sama. Bukankah suami anda terlibat hutang juga dilakukannya demi menikahi anda?

Padahal menurut anda keluarga suami adalah keluarga yang kurang mampu sehingga demi memenuhi keinginan pihak keluarga anda, terpaksa suami harus meminjam uang yang jumlahnya cukup besar. Konsekuensinya anda sebagai isterinya akhirnya turut menanggung hutang-hutang itu bukan?

Sebaiknya hilangkanlah pikiran-pikiran negatif bahwa pernikahan anda tidak barokah, karena permasalahan anda saat ini tidak bisa dijadikan alasan untuk berpikir demikian. Justru inilah saatnya anda dan suami harus kompak dan saling mendukung, bukannya menyerah apalagi berpikiran untuk berpisah.

Karena bila pada awal pernikahan anda yang cukup berat ini dapat dilalui bersama dengan baik, Insya Allah akan menjadi momen yang dapat memperkokoh ikatan cinta anda dengan suami, hingga anda berdua lebih siap bila dimasa yang akan datang dalam pernikahan anda nanti akan menemui lebih banyak lagi riak-riak gelombang yang siap menerpa bahtera rumah tangga anda.

Jadi inilah saatnya ujian pertama anda untuk menjadi seorang isteri yang sholihat bagi suami. Tunjukan padanya bila anda mampu mendampinginya dalam kesulitan ini.

Saran saya, bersabarlah dan lakukan apa saja yang kiranya dapat meringankan beban anda berdua saat ini, misalnya dengan mencari penghasilan tambahan yang memungkinkan, tanpa mengganggu kuliah anda.

Sebaiknya hindari berkeluh kesah di depan suami, karena akan berkesan bahwa anda menyesali pernikahan anda. Hal ini bisa mengendurkan semangat dan motivasi kerja suami anda dan akan membuatnya merasa bersalah karena tidak dapat membahagiakan anda.

Kemudian yang paling penting haruslah diiringi dengan pendekatan kepada Allah, mintalah pertolongan-Nya agar anda diberi kesabaran, dimudahkan untuk keluar dari kesulitan dan membukakan pintu rezeki untuk anda berdua. Serta mohonkan pada-Nya agar pernikahan anda penuh dengan keberkahan. Semoga ujian ini segera dapat dilalui dengan baik.

Wallahua'lam bishshawab

Wassalamu'alaikum wr. wb.

eramuslim.com, Konsultasi Keluarga
bersama Rr. Anita Widayanti, SPsi.

Tuesday, April 24, 2007

Isteri Menolak Berhubungan Suami-Isteri

Bismillahirrohmannirrohim

Assalamu 'alaikum. wr. wb

Ibu Rr. Anita W. yang baik,

Saya dan Isteri berumur 32 tahun, umur perkawinan kami sudah 7 tahun dan alhamdullillah sudah dikaruniai 1 putra berumur 4 tahun.

Saya karyawan swasta dan isteri saya mulai bekerja kembali 3 bulan yang lalu. Saat ini hubungan kami terus terang tidak harmonis. Semenjak isteri saya bekerja kembali, dia berubah sekali dan cuek terhadap saya bahkan sering menolak hubungan suami isteri walaupun kami sedang libur.

Saya sudah mencoba bicara baik-baik dengannya dan saya kaget sekali waktu dia bilang bahwa dia sudah tidak punya perasaan apa-apa terhadap saya. Saya mengerti semenjak kita menikah dia menjadi ibu rumah tangga yang hanya mengurus suami, anak dan rumah.

Sekarang dia seorang manager restaurant terkenal di Jakarta dan sering ketemu dengan orang-orang penting. Kayaknya dia sekarang lagi kebelinger dengan kehidupan metropolitan yang sebelumnya dia hanya lihat di majalah dan televisi.

Saya mohon pengarahan dari Ibu Anita, bagaimana yang harus saya lakukan? Maaf sebelumnya, saya sudah 40 hari tidak melakukan hubungan suami-isteri, setiap saya mencoba akhirnya kami selalu bertengkar & bahkan dia akan meminta cerai dari saya.

Terima kasih

M. Wiratmo
muda at eramuslim.com

Jawaban

Assalamualaikum Wr.wb

Bapak Wiratmo yang dirahmati Allah

Saya turut prihatin dengan masalah yang menimpa hubungan anda dengan isteri tercinta. Sikap isteri yang berubah setelah bekerja di luar rumah yang menjadi acuh dan cuek, begitu menyiksa anda.

Apalagi puncaknya saat isteri mulai sering menolak anda untuk memberikan nafkah batin kepadanya, pastinya cukup sulit membayangkan perasaan anda saat itu. Berjima' atau berhubungan suami isteri bukan saja merupakan kebutuhan biologis semata, tapi juga merupakan kewajiban dan hak anda sebagai seorang suami, sekaligus hak seorang isteri.

Berhubungan suami isteri juga merupakan salah satu sarana di mana suami isteri dapat mencurahkan kasih sayang secara lahir dan batin sekaligus mempererat cinta kasih antara suami dan isteri. Penolakan isteri untuk berhubungan intim biasanya dirasakan suami sebagai penolakan terhadap egonya sebagai laki-laki, artinya sama saja dengan menyinggung harga diri anda sebagai seorang suami.

Sikap isteri anda yang berubah saat ini kemungkinan disebabkan oleh kesibukan barunya, apalagi dengan posisi manager yang pastinya memiliki beban kerja dan tanggung jawab yang sangat besar. Tentunya hal tersebut sangat menyita tenaga dan pikirannya. Apalagi ia baru mulai bekerja lagi semenjak kevakumannya selama 7 tahun sejak menikah dengan anda dan hari-harinya hanya diisi dengan kegiatan mengurus keluarga.

Dapat dipastikan cukup sulit bagi isteri anda untuk menyesuaikan diri dalam membagi waktu, pikiran dan tenaganya untuk urusan kantor sekaligus urusan keluarganya. Hal ini tentunya dapat menyebabkan kelelahan mental dan fisik yang cukup berat dan dapat mengakibatkan stress.

Bagaimana tidak, seorang isteri yang letih bekerja seharian ketika pulang ke rumah masih dihadapkan oleh tugasnya sebagai ibu dan isteri yang juga seakan tidak ada habisnya. Sehingga ketika waktunya libur pasti ingin dinikmatinya untuk benar-benar beristirahat, atau mungkin saja keletihan fisik dan mentalnya membuatnya menjadi kurang bergairah untuk berhubungan suami isteri.

Isteri anda mungkin menganggap anda tidak mau memahami kesulitannya saat ini, apalagi saat anda mulai menuntut hak anda untuk dipenuhi, maka yang terjadi adalah pertengkaran yang berujung tuntutan isteri untuk bercerai.

Sesungguhnya bila isteri sampai lupa tugas dan kewajiban utamanya sebagai isteri maupun ibu, maka tugas anda sebagai suami yang harus bersabar, mendidiknya dan membimbingnya kembali pada jalurnya semula.

Pada dasarnya dalam agama Islam tidak ada kewajiban bagi isteri untuk bekerja apalagi mencari nafkah. Namun apabila hal itu harus terjadi tentunya harus ada alasan kuat dan haruslah seizin suami. Tentunya ketika isteri anda ingin bekerja kembali adalah atas seizin anda, bukan?

Namun bila dengan bekerjanya kembali isteri malah membawa lebih banyak kemudharatan bagi keluarga apalagi sampai mengancam keutuhannya, ada baiknya anda tinjau kembali izin bagi isteri anda untuk bekerja.

Mengenai keinginan isteri anda yang minta cerai, mungkin saat itu diucapkannya saat dalam keadaaan emosi, sebaiknya anda dapat menahan diri, mencoba bersabar dan tidak mudah terpancing keinginannya tersebut. Karena ucapan suami yang main-main atau sekedar bergurau saja dalam mengucapkan kata cerai dapat diartikan telah jatuh talak atau dengan kata lain anda dianggap sungguh-sungguh telah bercerai.

Karenanya mengapa hak talak hanya ada pada suami, karena suami pada fitrahnya dapat lebih bersikap rasional dan lebih dapat menahan diri untuk mengucap kata cerai. Berbeda halnya dengan wanita yang bila bertengkar dengan suami, bisa berkali-kali berteriak minta cerai. Pasti jadi repot kan pak?

Jadi sabar ya pak, saya tahu pastinya tidak mudah, namun cobalah bicara dari hati-ke hati agar dapat memahami kesulitan apa yang saat ini dihadapi isteri saat ini, serta ingatkan kembali bahwa selain pekerjaannya saat ini, keluargalah yang paling penting, apalagi anda sudah dikaruniai buah hati yang masih balita.

Mengingat isteri anda kini wanita karier yang sibuk seperti layaknya anda, cobalah bekerjasama dalam mengerjakan tugas-tugas di rumah tangga, atau paling tidak membantu meringankannya, agar dapat mengurangi beban kerjanya yang sudah berat di kantor.

Jadilah sahabat dan teman diskusi bagi masalah-masalah dalam pekerjaannya. Dengan demikian dapat memahami pekerjaan isteri anda sesungguhnya seperti apa untuk menghindari anda dari berprasangka buruk. Satu lagi yang terpenting mohonlah selalu pada Allah agar dapat mendidik serta membimbing isteri anda dan diberikan kesabaran melakukannya. Semoga berhasil, ya pak.

Wassalamu 'alaikum wr. wb.

eramuslim.com, Selasa, 24 Apr 07 11:11 WIB

Thursday, April 19, 2007

Menghadapi Ibu yang Terlalu Merongrong Anaknya....

Konsultasi problematika keluarga bersama Ibu Rr. Anita W.


Assalamualikum WR. WB

Dear Ibu Anita,

Kami adalah pasangan suami isteri yang baru menikah beberapa bulan. Semenjak kami menikah, Ibu saya mengingkan agar kami tidak usah menggontrak, cukup tingal dirumah ibu saya saja, karena memang rumah ibu saya masih banyak kamar dan kami keluarga kecil. Ibu saya biar ada temannya dan tidak kesepian.

Awalnya kami setuju dan berpikir kalo dengan mengontrak, bugdet kami akan lebih besar dari pada tinggal dengan Ibu saya. Lalu, karena sadar kami menumpang, hampir 90% pengeluaran di rumah kami berdua yang menanggung. Hal tersebut tidak masalah bagi kami berdua. Kami tahu itu kewajiban kami sebagai anak, terlebih lagi ayah saya sudah pensiundan tidak memiliki penghasilan, sementaraadik saya masih kuliah.

Yang menjadi hati kami risau adalah, Ibu dan adik saya yang memanfaatkandan mengandalkan kami sekali. Walau Ibu saya bekerja, tapi hampir setiap hari meminta ongkos ke kami, kami tidak tau gajiannya lari ke mana. Jika ditanya, alasannya untuk ongkos kuliah adik saya.Tetapi anehnya adik saya juga meminta ongkos ke kami.

Saya pernah tegaskan ke mereka kalo kami bukan bank berjalan dan saya sempat marah-marah karena pengeluaran di rumah melebihi budget bulanan kami. Tetapi hal tersebutt hanya efektif beberapa hari, selanjutnya berulang kembali. Saya benar-benar capek dan letih dengan kondisi di rumah seperti ini. Terlebih lagi, mereka tidak ada kerja samanya sama sekali, seenak-enaknya.

Padahal kami benar-benar mengencangkan ikat pinggang, tapi adikdan ibu saya tidak peduli, mereka seenaknya memakai fasilitas di rumah tanpa peduli akan bantu bayar. Dan yang bkin saya tambah kesal. Saya baru tau kalo ibu saya berhutang di mana-mana dengan alasan untukuang kuliah adik saya. Dan kami baru diberitau setelah ibu saya ditagih terus-terusan, ibu saya panikdan tidak bisa bayar, akhirnya beliau baru bilang ke kami. Mendengar jumlah hutangnya, sempat membuat kami shock.

Jujur Ibu Anita, saya jengkel dan tidak kuat lagi. Kami sebagai pasangan pasutri baru yang belum dikarunia anak, punya cita-cita dan tujuan ke depan. Tapi bagaimana hal tersebut bisa terwujud kalo setiap gajian, kami harus menutupi hutang-hutang ibu saya (ibu saya sering b'hutang ke warung-warung, walaupun saya telah belikan), bahkan semenjak saya bekerja (krng lbh 3 thn) saya tidak memiliki tabungan.

Saldo di bank selalu 0. Dan kondisi pasti akan berubah ketika kami dikarunia anak kelak, kami tidak mungkin bantu banyak.

Yang ingin saya tanyakan, bijak kah bagi kami, jika kami melilih mengontrak saja dan memberi ibu saya uang bulanan. Walaupun saya sadar, kami tulang pungung mereka. Kami ingin memberi pelajaran ke mereka, kalau hidup itu harus berusaha, bukan dengan cara meminta dan mengandalkan orang.

Mohon sarannya ibu.

Wasalam

Safa

Jawaban

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Saudari Safa yang sedang risau, semoga Allah memberi kesabaran.

Memang sulit ya, bila berada pada posisi anda, niat anda untuk memilih tinggal dengan orangtua untuk mengurangi budget untuk mengontrak, malah sebaliknya hampir menguras penghasilan anda setiap bulannya alias over budget.

Karena ternyata anda berdua sebagai tulang punggung keluarga, maka sangat diandalkan untuk menjadi sumber nafkah utama bagi keluarga. Terlebih lagi setelah ayah anda pensiun dan tidak lagi memiliki penghasilan dan meskipun ibu anda bekerja, mungkin penghasilannya tidak memadai, hingga otomatis anda berdualah yang diharapkan dapat menopang perekonomian keluarga.

Saya sangat memahami kerisauan yang anda alami saat ini. Dan sebagai pasangan muda, tentunya anda berdua berharap untuk dapat menyisihkan sebagian penghasilan anda berdua untuk rencana-rencana masa depan. Apalagi bila anda nanti dikaruniai buah hati, pasti banyak sekali cita-cita anda untuk buah hati nanti bukan? Mulai dari asuransi pendidikannya hingga punya rumah sendiri kelak.

Saya juga bisa memahami logika anda yang cenderung mempertanyakanbagaimana semua itubisa diwujudkan, apabila penghasilan anda selalu 'ludes' untuk membantu keluarga, serta membayar tagihan-tagihan milik ibu yang ternyata suka berhutang. Sehingga dapat dimengerti kejengkelan anda dengan kondisi seperti ini apabila terus menerus berlanjut.

Namun tidak salah kalau anda berdua juga sedikit merenung dan mempertimbangkan bahwa apa yang anda lakukan berdua dengan membantu adik dan orangtua itu sangatlah mulia. Terutama lagibila anda ikhlas melakukannya.

Karena semua itu tidak akan sia-sia di sisiAllah SWT. Kalau kita selalu dianjurkan untuk bersedekah dan infaq kepada orangmiskin yang tidak kita kenal, maka anggaplah semua yang anda berikan itu adalah sedekah dan infaq anda. Dan bahkan sisi Allah, pahalanya akan jauh lebih besar.

Dan sesuai dengan apayang kita imani, semua sedekah dan infaq ituakan memberikan keberkahan dan kelimpahan rezeki pada anda berdua. Faktor ini perlu anda pertimbangkan sebelum anda bicara tentang manajemen keluarga.

Menasehati apalagi menegur ibu tentu bukan hal yang terlalumudah, selain juga mungkin kurang etis. Pastiada kekhawatiran akan menyinggung dan menyakiti hati beliau. Sebab biar bagaimana pun beliau adalah orang yang paling berjasa di muka bumi ini. Kalau bukan karena ibu anda, anda tidak akan pernah lahir di dunia kan?

Anda pernah menegaskan sikap anda bahwa anda bukan bank berjalan, namun tampaknya kurang efektif ya? Nyatanya tetap tidak merubah sikap ibu dan adik anda.

Sebagai anak, tentu tidak salah kalau anda sedikit mencoba untuk menyampaikan keberatan anda kepada ibu dan adik anda. Tentunya dengan tata cara dan bahasa yang baik, jauh dari sikap menggurui apalagi memarahi.

Ada sementara teman yang sukses menerapkan sistem uang mingguan atau bulanan, kemudian minta rincian penggunaannya. Namun belum tentu cara pasti tepat untuk diterapkan pada keluarga anda. Meski caraini bertujuan agar ada pertanggungjawaban dalam penggunaan uang yang anda berikan.

Ada keluarga yang juga menerapkansistem 'open management', misalnyadengan menjelaskan dengan jujur berapa persisnya penghasilan kepada mereka sertakan menjelaskan mengenai alokasi biaya-biaya rutin bulanan yang harus dikeluarkan, termasuk 'jatah' untuk keperluan keluarga dan rencana-rencana anda di masa depan, misalnya tabungan untuk cicilan rumah.

Namun sekali lagi, belum tentu cara ini tepat untuk solusi buat ibu anda. Karena itu sebaiknya anda lebih banyak bicara dari hati ke hati kepada beliau. Urusan keuangan keluarga, terutama kepada ibu sendiri, tentunyamemang sangat berbeda dengan manajemen keuangan sebuah perusahaan.

Anda toh tidak ingin memperlakukan ibu anda seperti pembantu kan? Juga tidak seperti pegawai bawahannya anda yang kalau belanja harus pakai bon. Sebab biar bagaimana pun beliau ibu anda, wajarnya anak dan ibu memang tidak pernah ada hitung-hitungan. Pepatah mengatakan kasih ibu sepanjang hari, tapi kasih anak sepajang galah.

Mengenai kegemaran ibu berhutang, perlu diberi pengertian denganlembut dan sabar.Intinya pesan itu sampai, tetapi hati ibu tidak sampai terganggu, apalagi sampai luka.Berhutang memangbukan kebiasaan yang baik, tetapi saya akui memang sulit menghentikan kebiasaan itu.

Apalagi ibu anda merasa andalah yang akan menanggung hutang-hutangnnya. Seandainya anda bisa melakukan pendekatan yang mesra dan tetap sopan, sebenarnya tidak ada salahnya mengajak ibu bersama-sama anda ketika harus berhutang. Bukan berarti tiap mau berhutang harus selalu minta konfirmasi, tetapi jalanani belanjakeperlua keluarga berdua.

Sebagai keluarga baru, memang idealnya anda tinggal terpisah dengan orangtua atau mertua.Hal tersebut memang rawan dengan konflik dan campur tangan pihak ketiga.

Ide anda untuk mengontrak rumah terpisah dari orangtua dan memberi uang bulanan pada ibu, sebenarnyajuga salah satu cara, namun belum tentu tepat untuk keluar dari masalah. Apalagi kalau cara menyampaikan ide itu kurang cerdas dan cantik, malah nanti akanmemberi kesan bahwa anda menghindari keluarga dan tanggung jawab sebagai tulang punggung keluarga.

Sebab yang terpenting adalah menjaga hubungan harmonis dengan keluarga. Toh rezeki bisa dicari. Kalau kurang, kan bisa minta kepada Allah. Sebab yang punya rezeki itu Allah, bukan kita. Kita hanya berusaha, hasilnya akan ditentukan oleh Allah.

Pada akhirnya teruslah berdoa semoga Allah memudahkan niat anda dan diberi kesabaran dalam menghadapi sikap keluarga apalagi ibu anda, terlepas dari sikapnya yang kurang berkenan di hati anda.

Biar bagaimanapun beliau adalah seorang ibu yang melahirkan kita ke dunia. Bukankah sudah seharusnya kita memuliakan ibu kita, terlepas dari semua kekurangan beliau? Sebagai seorang anak sudah sepatutnyalah kita memberikan yang terbaik selama kita mampu pada ibu, mumpung kita masih berkesempatan membalas kasih sayang beliau. Semoga Allah merahmati anda dan menghilangkan kerisauan dihati anda.

Wallahu'alam bishshawab. Wassalamu'alaikum wr.wb

eramuslim.com, Kamis, 19 Apr 07 05:56 WIB,


Free Blogger Templates by Isnaini Dot Com. Powered by Blogger